banner 728x250

Pulihkan Pembelajaran lewat Penguatan Literasi, Kemendikbudristek Bangun Kolaborasi Pemangku Kepentingan

Jakarta, wartaterkini.news–Sebagai negara dengan sistem pendidikan terbesar ketiga di Asia dan keempat terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 50 juta murid, 3 juta guru, dan 400 ribu sekolah.

Merujuk data Rapor Pendidikan Indonesia tahun 2023, sebanyak 61,53 persen murid jenjang sekolah dasar, 59 persen murid jenjang sekolah menengah pertama, dan 49,26 persen murid jenjang sekolah menengah atas yang memiliki kompetensi literasi di atas standar minimum.

Artinya, masih banyak murid di Indonesia yang perlu ditingkatkan kompetensi literasi dan numerasinya.

Untuk itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktorat Sekolah Menengah Pertama (Direktorat SMP), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), I Nyoman Rudi Kurniawan, mengatakan perlu gerakan masif dari berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat, untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dalam proses pembelajaran peserta didik.

“Kecakapan literasi peserta didik di tingkat dasar perlu ditingkatkan secara efektif melalui berbagai cara. Salah satunya membangun kolaborasi yang kuat antarpemangku kepentingan,” ujar I Nyoman dalam keterangannya dikutip di Jakarta, Kamis (14/12/2023).

Baca Juga :   Idul Adha 2023, Daging Kurban Kemenag OKU Selatan di Bagikan Ke Warga dan Mitra Kerja

Dalam sambutannya secara virtual pada acara Gelar Wicara dengan tema “Daya Kolaborasi: Pemulihan Pembelajaran melalui Penguatan Literasi”, di SMP Negeri 17 Kota Mataram, Rabu (13/12/2023) I Nyoman menyampaikan, saat ini daya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam upaya peningkatan literasi belum dimanfaatkan secara optimal.

“Perlu kiranya, kepala sekolah, guru, dan pihak lain mendapatkan inspirasi strategi menggelorakan kolaborasi sebagai salah satu kekuatan untuk meningkatan literasi,” ujarnya.

Ia berharap, para pemangku kepentingan dapat memahami bagaimana cara meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dalam upaya meningkatkan literasi peserta didik. “Semoga sahabat literasi, dapat menyebarluaskan semangat perubahan ini di satuan kerja dan satuan pendidikan lainnya,” tutur I Nyoman.

Dalam kesempatan itu, Asisten I Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Mataram, Lalu Martawang mengungkapkan, penguatan literasi di daerah sangat dibutuhkan untuk mendukung pemulihan pembelajaran pascapandemi Covid-19. Oleh karena itu, ia berharap melalui gelar wicara ini dapat menjadi pendorong para pemangku kepentingan untuk menguatkan literasi peserta didik di Indonesia, khususnya di Lombok.

Baca Juga :   Wamenkominfo Ingatkan Pengguna Internet Waspadai Gangguan Informasi Jelang Pemilu 2024

“Saya harap melalui kegiatan ini, kita dapat menyamakan visi dalam melakukan transformasi pendidikan, serta dapat memberikan pengetahuan terkait strategi para pemangku kepentingan dalam membenahi literasi dan menyusun rencana tindak lanjut untuk pemulihan komunitas belajar,” ujar Martawang.

Sebagai upaya penguatan literasi di Kota Mataram, kata Martawang, pemerintah kota akan membangun perpustakaan daerah di pintu masuk kota Mataram atau di seputaran Tembolak Lingkar Selatan. “Ini bukti, bahwa Pemerintah Kota Mataram secara serius memperhatikan literasi. Di samping itu, kita juga akan menerapkan pojok baca di setiap sekolah,” ucap Martawang.

Dalam upaya menguatkan literasi dan menumbuhkan minat baca, pada gelar wicara ini, Kemendikbudristek secara simbolis menyerahkan buku fiksi dan ilmiah kepada kepala sekolah SMP Negeri 17 Kota Mataram. Penyerahan buku ini merupakan bagian dari program Kemendikbudristek dalam mendistribusikan 15 juta eksemplar buku bacaan bermutu ke sekolah-sekolah di daerah 3T dan sekolah yang memerlukan intervensi khusus.

Baca Juga :   Satria Budi Utomo, Maju Sebagai Calon Legislatif Demi Kesejahteraan Masyarakat Kecil

“Kita distribusikan juga buku fiksi dan ilmiah ke sekolah-sekolah di seluruh daerah di Indonesia. Harapannya dapat merangsang minat baca para peserta didik khususnya di tingkat dasar. Guru juga harus menjadi contoh literasi di lingkungan sekolah agar peserta didik tidak malas membaca,” ungkap Analis Kebijakan pada Direktorat SMP, Suhartono Arham.