Proses Penyelamatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero)

oleh

wartaterkini.news – PT Asuransi Jiwasraya berdiri sejak 31 Desember 1859 dengan nama awal Nederlansche Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ), yang mana pada tahun 1973 beralih menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Kepiawaian direksi Jiwasraya mendapatkan acungan jempol atas kehebatannya yang mana pada saat itu mampu keluar dari kesulitan keuangan dengan menyelesaikan pembayaran pertanggungan premi sekitar Rp7,4 triliun, dan bangkit dari terpaan krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1998.

Pada tahun 1998 banyak bank yang mendapat bailout (suntikan) dana dari pemerintah berupa obligasi rekap, namun beda halnya dengan Jiwasraya tidak mendapatkan suntikan dana berupa Penyertaan Modal Negara (PNM).

Dalam meningkatkan upaya peningkatan performa bisnis yang signifikan, Jiwasraya mencapai indikator total asset mencapai Rp17 triliun pada tahun 2013 atau meningkat Rp7,8 triliun dibandingkan dengan total asset tahun 2012 sebesar Rp9,3 triliun akibat revaluasi asset. Dan investasi mencapai Rp1,7 triliun itu atinya meningkat Rp1,1 triliun.

Pada tahun 2013, laba yang dihasilkan mencapai Rp457 miliar, yang mana dalam hal ini meningkat sebesar Rp268 miliar. Premi juga tercatat meningkat sebesar Rp63,5 miliar dengan total premi tahun 2013 Rp5.775 triliun.

Baca Juga :  Ketua DPD Barisan Muda Kosgoro 1957 Sumut Apresiasi Musda Golkar Labuhanbatu

Pada saat itu jiwasraya memang menunjukkan performa kemajuan yang signifikan tak hanya dari performa bisnis tetapi juga layanan dan inovasi. Saat ini Jiwasraya sudah memiliki jaringan kantor layanan yang cukup besar terdiri atas 17 kantor regional, 71 kantor cabang, serta 412 kantor area dengan dukungan sekitar 10.000 agen.

Hingga awal tahun 2014, ditengah perlambatan pertumbuhan industri asuransi jiwa, Jiwasraya mampu mencatat pendapatan premi sebesar Rp3 triliun atau tumbuh 50 persen, dan pada akhir 2014 target premi mencapai Rp7,8 triliun.
Langkah inovasi yang diambil oleh Jiwasraya pada tahun 2014 adalah produk unit link JS Pro Mapan dan JS Pro Idaman, adapun produk endowment JS Plan Optima yang ditujukan untuk kalangan menengah keatas.

Pada tahun 2019 publik digemparkan dengan bangkrutnya Asuransi Jiwasraya karena gagal bayar polis kepada nasabahnya, yang mana klaim jatuh tempo para pemegang polis pada akhir tahun 2019 mencapai Rp13,74 triliun.
Terungkapnya kasus Jiwasraya 2019, terlambat membayar polis ini sebetulnya kasus ini diketahui pertama kali oleh laporan nasabah Jiwasraya pada Oktober 2018, nilai keterlambatan pembayaran polis pada saat itu mencapai Rp802 miliar.

Baca Juga :  Pengaruh Angka Pengangguran Terbuka Terhadap Kemiskinan Di Sulteng

Para nasabah masih menerima perpanjangan polis yang jatuh tempo hingga setahun ke depan, namun selang satu tahun polis yang jatuh tempo itu tidak kunjung bisa dicairkan. Hal ini mendorong para nasabah untuk menempuh berbagai jalur agar dapat mencairkan klaim polis itu, dari mulai mendatangi kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyambangi kantor kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga mendatangi ke Komisi VI DPR RI.

Para nasabah Jiwasraya mengaku tertarik dengan bunga 9 persen pertahun seperti yang sudah dijanjikan produk investasi Bancassurance dari Jiwasraya. Bancassurance merupakan layanan bank yang menyediakan produk asuransi sebagai perlindungan dari produk investasi jangka panjang.
Dalam kasus penyelamatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pihaknya bersama-sama Kementerian BUMN menyelesaikan masalah Jiwasraya baik dari segi hukum maupun pemegang polis.
Ada 6 terdakwa dari aspek hukum yang divonis maksimal seumur hidup di penjara dengan denda sekitar Rp16 triliun. Kemudian dari segi korporasi meminta Kementerian BUMN untuk terus melakukan inventarisasi dari kewajiban pemegang polis dan juga melakukan restructuring terutama selama investasi dalam jumlah return yang sangat tinggi di Jiwasraya.

Baca Juga :  Jaksa Agung Layak Tindak Tegas Kajati NTT Yulianto

Pada bulan Agustus lalu manajemen baru Jiwasraya telah melakukan imbauan pengkinian data. Saat ini pemerintah selaku pemegang saham juga telah menyiapkan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp22 triliun kepada Indonesia Financial Group (IFG) atau yang dulu bernama PT Badan Pembinaan Usaha Indonesia (Persero).

Langkah selanjutnya, Penyertaan Modal Negara (PMN) akan digunakan Indonesia Financial Group (IFG) untuk mendirikan perusahaan baru yaitu IFG Life yang akan bergerak di bisnis asuransi jiwa, kesehatan dan pengelolaan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK). Nantinya, polis Jiwasraya akan direstrukturisasi dipindahkan dari Jiwasyara ke IFG Life.

Fabiola Sondakh selaku Direktur Ritel Jiwasraya mengungkapkan bahwa manajemen baru Jiwasraya telah melakukan pemutakhiran data pemegang polis. Untuk melakukan pengkinian data, pemegang polis dapat mengakses di www.jiwasraya.co.id/pengkinian atau menghubungi Call Center (021) 50987151. Apabila pemegang polis dekat kantor layanan Jiwasraya maka silahkan datang langsung ke kantor layanan.

Manajemen baru Jiwasraya telah melakukan pengiriman SMS secara masif kepada pemegang polis yang terdaftar, namun apabila belum berpartisipasi ketika sudah di SMS maka tim layanan Jiwasraya akan menjemput bola melalui Outbound Call Center.

Penulis : Tri Lestari – Mahasiswi

Print Friendly, PDF & Email