Pemkab Bekasi Diminta Serius Lawan Global Warming

oleh

Bekasi Jawa Barat, wartaterkini.news – Letak geografis wilayah Kabupaten Bekasi yang sangat strategis menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai wilayah jantung Ekonomi yang terus berkembang serta juga menjadi bagian dari Pusat Pemerintahan Indonesia.

Bukan hanya itu, Kabupaten Bekasi juga sebagai Bufferstaat atau wilayah penyangga dari jantung bagi kehidupan bangsa dengan 17.000 Pulau dan 700 Sungai besar atau Kali alam, yaitu Indonesia.

Bekasi merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat, daerah yang sudah ada sejak berdirinya kerajaan Tarumajaya sebagai wilayah Gemah Ripah Loh Jinawi.

“Terbukti sebelum Bangsa Eropa mengenal teknik bagaimana memanfaat sungai, leluhur kita sudah lebih dulu membuat Channel/kanal atau sekarang disebut Sodetan agar mampu mengairi sawah dan tanpa kita sadari di Sungai Gomati ( sampai hari ini sejarawan belum sepakat dimana lokasi Kali tsb), masyarakat kita sudah melakukan aksi Mitigasi bencana” jelas Dedi Kurniawan Direktur lembaga Kajian Strategis Bambu Foundation dan Ketua Harian Komunitas Save Kali Cikarang, Jumat (24/9/2021).

Baca Juga :  Kabar Gembira, Gaji Nakes RSUD Morotai Mulai Dibayarkan

Menurutnya, hal tersebut dilakukan sejak delapan abad sebelum ada BASARNAS atau BPBD, yang hari ini merupakan lembaga yang memiliki tupoksi mengurusi hal tersebut.

Pria yang akrab disapa Jhon Smoker itu menyebutkan, Pemerintahan Orde Baru dengan Road map pembangunan ekonomi dalam konsep REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), telah sukses mendatangkan investor dari luar negri.

“Triliunan Dolar berhasil di raup dan berdiri di Bekasi. 11 Kawasan Industri bercokol di bumi Bekasi dengan jumlah lebih dari 12.000 perusahaan dan menghasilkan eksport Nasional 37 persen dan menghasilkan pajak yang masuk ke pundi-pundi APBN mencapai 20 persen lebih” ungkapnya.

Baca Juga :  Pick Up Bermuatan Buah Kelapa Terguling di Ensalang, Berikut Kronologisnya

Lantas bagaimana dengan kondisi alamnya hari ini?

Ia menilai, sejak awal kajian strategis dari lahan yang akan dijadikan Industri masih banyak menuai permasalahan. Wilayah yang saat ini dijadikan Kawasan industri, beberapa dintaranya merupakan Wet Land atau daerah basah yang sangat berfungsi sangat vital sebagai serapan air, pengendali banjir, penopang ekosistem, penghijauan, dan sebagai paru paru penghasil o2 (oksigen). Kecamatan Setu, Cikarang Barat, Tambun Selatan dan Sukatani yang merupakan wilayah basah nan ijo royo royo, kini telah berubah fungsi menjadi infrastruktur.

“Maka tak heran setelah Wet land berganti menjadi bangunan dengan lantai rigid dan beratap seng komplit dengan ribuan cerobong yang menantang angkasa menghasilkan Gas Efek Rumah Kaca mebuat kenaikan suhu sangat ekstrim sebanyak 0.7 derajat celsius per tahun” tegasnya.

Baca Juga :  Sujiwo Berharap Alumni UNU Kalbar Jadi Rahmat untuk Umat

Sedangkan di sisi lain, Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Bekasi sama sekali tidak memiliki Road Map terkait program dalam penanggulangan nya. Dengan anggaran APBD yang masih serampangan dan belum ada solusi pemyelesaian masalah tersebut, hanya mampu fokus dalam hal menanggapi kritikan dari masyarakat.

“Jika hal tersebut tak ada perubahan nyata terkait melawan Climate Change & Global Warming. Maka, dalam dua tahun ke depan, daftar Kecamatan setelah Bojong Mangu, Sukawangi yang telah bertahun-tahun mengalami kekeringan, maka akan di susul oleh Kecamatan lainnya yang mengalami hal serupa” tutup Dedi. (Eka/Red).

Print Friendly, PDF & Email