Lindungi Ikan Hiu, Kadis DKP Morotai Hadiri Konsultasi Publik di Tobelo, Ini yang Disepakati

Morotai Maluku Utara, wartaterkini.news – Dalam rangka mengusulkan penetapan status perlindungan Ikan Hiu Berjalan di Maluku Utara, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Morotai menghadiri Konsultasi Publik di Kota Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara.

Rapat Konsultasi Publik yang berlangsung di Hotel Marahai Tobelo, selasa (13/09/2022) melahirkan 6 poin mendasar yang disepakati bersama dan dituangkan dalam berita acara, diantaranya.

  1.  Ikan Hiu Berjalan dari genus Hemiscyllium memiliki karakter bioekologi yang unik dan memiliki sebaran yang terbatas (endemik) yaitu di perairan Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Dari sembilan spesies hiu berjalan yang ada di dunia, enam spesies terdapat di perairan Indonesia, antara lain Hemiscyllium halmahera, H. freycineti, H. galei, H. henryi, H. strahani, dan H trispeculare, dengan estimasi kelimpahan di alam bervariasi antara 36-200 individu per km2.
  2. Hiu Berjalan memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi sebagai atraksi wisata di habitat aslinya dan hasil budidaya generasi ke-2 (F2).
  3. Mengurangi ancaman bagi populasi Hiu Berjalan berupa penangkapan berlebih dan tidak ramah lingkungan, degradasi habitat akibat pembangunan pesisir, dan limbah industri.
  4. Perlunya pemberitahuan dan sosialisasi tentang perlindungan Hiu Berjalan yang melibatkan seluruh forum masyarakat dan pemangku kepentingan.
  5. Menetapkan habitat Hiu Berjalan sebagai kawasan konservasi.
  6. Menyepakati penetapan status Perlindungan Penuh untuk semua spesies Ikan Hiu Berjalan.
Baca Juga :  Dalam Waktu Dekat, PSU Pilkades Desa Loleo Jaya Morotai Segera Dilaksanakan

Dalam rapat tersebut, Kepala DKP Pulau Morotai Yoppy Jutan mengatakan, pihaknya bakal membuat regulasi terkait dengan status perlindungan Ikan Hiu Berjalan setingkat Provinsi.

Menurutnya, sebelumnya masyarakat memanfaatkan Ikan Hiu Berjalan dengan metode yang tidak ramah lingkungan, sehingga terbukti dalam kurun waktu 10 tahun degradasi populasi Ikan Hiu Berjalan ini berkurang.

“Kami sudah melakukan pengiriman Ikan Hiu Berjalan hingga ke Dubai untuk Public Aquarium sebelum kami meneliti Ikan Hiu Berjalan ini,” ungkap Yoppy

Baca Juga :  Gunakan Vaksin Sinovac dan Moderna, Polres Magelang Kota Suntik 211 Orang

Bahkan ia juga pernah mengusulkan usulan perlindungan Ikan Hiu Berjalan pada tingkat Internasional kepada Conservation International (CI) dengan data dukung dan informasi yang dikumpulkan.

Dari aspek pariwisata, lanjut Yoppy, nilai jual Ikan Hiu Berjalan lebih besar dibandingkan diperdagangkan untuk ikan hias. Karena untuk perdagangan ikan hias memerlukan cost dan effort yang lebih besar.

“Berdasarkan penelitian kami, ditemukan kandungan Merkuri di dalam tubuh Ikan Hiu Berjalan Halmahera sudah melebihi ambang batas. Hal tersebut dikarenakan adanya aktivitas pertambangan di sekitar habitat Ikan Hiu di Halmahera,” tuturnya

Baca Juga :  RSUD Morotai gelar Vaksinasi Covid-19 di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Daruba
Foto bersama peserta Konsultasi Publik

“Evaluasi untuk BKIPM Ternate, dalam pencatatan Ikan Hiu Berjalan di aplikasi karantina, perlu disesuaikan nama ilmiah ikan H. freycineti dengan ikan H. Halmahera,” sambungnya

Adapun peserta Rapat Konsutasi Publik, perwakilan dari Dit. KKHL, KKP, Setditjen PRL, KKP, P2O, Brin, DKP Prov. Maluku Utara, Dinas Pariwisata Prov. Maluku Utara, DKP Kab. Halmahera Utara, BALITBANGDA Halmahera Utara, BKSDA Maluku, LPSPL Sorong, SKIPM Ternate, ISPIKANI, Universitas Hein Namotemo, Universitas Halmahera, Politeknik Padamara, Yayasan Konservasi Indonesia, Halmahera Dive Club, Dive Morotai, Pemandu Wisata dan Walking Shark Dive Club. (Endi/Red)

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini