Senin, Januari 24, 2022
Google search engine
Google search engine
BerandaBeritaFMB9: Potensi Bencana Hidrometeorologi Mengintai Sepanjang Tahun

FMB9: Potensi Bencana Hidrometeorologi Mengintai Sepanjang Tahun

Jakarta, wartaterkini.news–La Nina. Begitu para ahli menyebut fenomena alam yang selain menimbulkan curah hujan meningkat, juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Ancaman bencana akibat La Nina di tahun 2021 diungkap Plt. Deputi Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Urip Haryoko, dalam forum group discusion (FGD) FMB9 di Jakarta, Senin, (6/12/2021).

Menurut Urip, dalam pendataan BMKG, untuk periode Desember – Januari – Februari potensi bencana yang mengintai berupa banjir, longsor dan gelombang tinggi.

“Untuk Maret – April – Mei, Puting Beliung, Petir dan Hujan Es siap mengintai sejumlah wilayah Indonesia. Selanjutnya pada Juni – Juli – Agustus potensi bencana Kekeringan, Karhutla, dan Gelombang Tinggi telah siap dalam antrian. Sementara pada September – Oktober – November Puting Beliung, Petir dan Hujan Es kembali mengintai,” urai Urip.

Baca Juga :  Herman Deru Kembali Lakukan Peninjauan Check Point PSBB

Selain bencana hidrometeorologi, dampak La Nina juga akan mengenai sektor ekonomi. “Apabila La Nina terjadi kemungkinan tekanan inflasi di Indonesia dapat muncul karena harga beberapa produk pangan strategis seperti bawang merah, cabai, daging sapi, dan ayam kemungkinan akan naik,” ujar Urip.

Selain sektor ekonomi, beberapa sektor lainnya pun juga akan terdampak apabila La Nina terjadi. Berikut adalah beberapa sektor yang harus waspada terhadap bencana hidrometeorologi akibat cuaca/iklim ekstrim sebagai dampak dari La Nina : 1. Pertanian dan kehutanan, 2. Transportasi, 3. Pariwisata, 4. Pertahanan dan keamanan, 5. Konstruksi, 6. Tata ruang, 7. Kesehatan, 8. Sumber daya air, 9. Energi dan pertambangan, 10. Industri, 11. Kelautan dan perikanan, serta 12. Penanggulangan bencana.

Baca Juga :  FMB 9, Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa di Sumsel

Oleh sebab itu, BMKG meminta Pemerintah Daerah agar serius dalam menanggapi peringatan dini La Nina yang dikeluarkan BMKG, guna meminimalisir dampak dan kerugian yang lebih besar.

Sebagaimana yang telah disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati beberapa waktu yang lalu. Dwikorita meminta kepala daerah agar lebih fokus dalam upaya mitigasi daripada penanggulangan pasca kejadian. “Sebab, mitigasi yang komprehensif akan bisa menekan jumlah kerugian dan korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi,” ujarnya.

Baca Juga :  Sensus Penduduk 2020 Perwujudan Satu Data Indonesia

Selain Pemerintah Daerah, masyarakat juga perlu lebih waspada jika La Nina terjadi. Namun, perlu diketahui bahwa fenomena ini mungkin tidak terjadi di semua bagian di Indonesia. Biasanya kejadian ini hanya akan berdampak pada beberapa wilayah saja.

“Statistik kebencanaan saat ini didominasi oleh peristiwa-peristiwa bencana yang terkait dengan cuaca atau iklim. Maka dari itu penting untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengatasi segala potensi bencana. Peringatan dini yang dikeluarkan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan jeda waktu yang bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mengingat fenomena cuaca dan iklim bisa diprakirakan,” ucapnya. (*)

Foto: Ilustrasi, Potensi Bencana Hidrometeorologi  (Dok. BMKG)

Print Friendly, PDF & Email
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine
Google search engine

Covid-19 Counter

Indonesia
4,286,378
Total Kasus
Updated on 24 January, 2022 11:07 am

Paling Populer

Headline News

error: Content is protected !!