Festival Selat Tiworo Disparbud Mubar Perkenalkan Tarian dan Sejarah Raja Tiworo

Mubar Sultra, wataterkini.news–Festival selat tiworo menjadi ajang pertunjukkan budaya dan sejarah tiworo atau la woroku yang ada di Kabupaten Muna Barat, yang dilaksanakan didesa tondasi Kecamatan Tiworo Utara, Minggu (5/9/2022).

Pertunjukkan beberapa budaya itu bukan hanya sebatas pertunjukkan beberapa tari, melainkan bercerita tentang perjuangan Raja Tiworo.

Hal ini diungkapkan oleh seorang ahli budaya dan sejarahwan Universitas Halu Oleo, Professor La Niampe, ia bercerita memgenai perjuangan raja Tiworo atau La Tiworo.

“Ketika melawan kolonial Belanda pada 367 tahun lalu begitu memilukan, La Tiworo tewas saat perang melawan Belanda, anak dan istrinya pun jadi tawanan penjajah,” tuturnya.

Pada saat itu, tepatnya tahun 1.655 terjadi peristiwa penggempuran hebat bagi kerajaan Tiworo, tepatnya di Selat Tiworo dan Benteng Tiworo, sebab Tiworo dianggap bekerja sama dengan Makassar yang merupakan saingan dagang VOC pada masa itu..

Dampak dari serangan tersebut, terjadi banyak kerugian di kerajaan Tiworo, memakan korban hingga dua ratus warga Tiworo tewas beserta Raja Tiworo.

Baca Juga :  Ini Himbauan Kapolres Jepara Untuk Disiplin dan Taati PPKM Darurat

Kemudian kurang lebih 300 perempuan beserta anak-anak tertangkap hidup-hidup oleh VOC, termasuk istri raja Tiworo dan anak perempuannya yang dijadikan sebagai tawanan.

Tak hanya itu, benteng yang dianggap megah dan terindah pada saat itu dirubuhkan rata tanah, dan Belanda turut membakar seluruh logistik kerajaan termasuk perahu.

Namun dengan ajaibnya, meski rubuh rata tanah, tak cukup waktu 10 tahun, masyarakat Tiworo mampu kembali bangun benteng itu hingga berdiri megah seperti sedia kala.

“Padahal waktu itu belum ada APBD, APBN. Mereka bangun hanya karena persatuan dan semangat,”ujar Prof La Niampe.

Prof La Niampe ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam sejarah perjuangan kerajaan Tiworo, maka ia memberi rekomendasi bagi Pemerintah Muna Barat, yakni menggagas penulisan sejarah dan kebudayaan Tiworo.

Baca Juga :  PTQ RRI di Takengon Akan Dibuka Secara Langsung Oleh Wapres

Kemudian pembuatan peraturan daerah tentang penyusunan lembaga adat Tiworo, penetapan benteng Tiworo dan benteng lainnya di Muna Barat menjadi cagar budaya, serta penetapan pahlawan nasional bagi korban pertempuran melawan Belanda.

Sebab tak ada yang dibanggakan apabila tak ada benteng yang menjadi cagar budaya dengan tanpa status.

“APBD belum ada haknya untuk memberi anggaran itu, apalagi APBN. Bisa ditangkap bupatinya kalau menggunakan anggaran di situ, kecuali ditetapkan dulu statusnya,”jelasnya.

Sehingga pakar naskah kuno dan budayawan UHO ini telah menugaskan tenaga ahli cagar budaya sebanyak lima orang guna membantu pemerintah daerah dalam melakukan penetapan status cagar budaya di Muna Barat.

“Secepatnya prosesnya dilakukan, sebab benteng Tiworo ini unik di dunia, serta setiap kegiatan pariwisata harus dilaksanakan di benteng Tiworo,”pungkasnya.

Menurutnya, dengan penetapan status cagar budaya, benteng Tiworo ini akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, ketika benteng ini terus dipromosikan, maka yang akan berkunjung bukan hanya wisata pelajar, tetapi juga dari mancanegara.

Baca Juga :  Diduga Kerena Hutang, Seorang Pria di Sungai Ayak Nekat Gantung Diri

Penjabat Bupati Muna Barat, Dr. Bahri turut apresiasi dan akan menindaklanjuti rekomendasi tersebut, serta segera tetapkan benteng Tiworo dan benteng lainnya menjadi cagar budaya dan membuat kajian dalam penetapan pahlawan dari Tiworo..

“Ini saya minta kepada pariwisata, kebudayaan untuk bisa menetapkan pahlawan nasional dari Tiworo,” terangnya,

Direktur Perencanaan Keuangan Daerah Kemendagri itu mengaku tidak mudah dalam mencapai target ini, olehnya itu membutuhkan kerja sama berbagai pihak, baik kementerian, lembaga pemerintahan, pelaku industri pariwisata, serta insan pers dalam membangun ekosistem pariwisata untuk mencapai target.

“Banyak yang harus dilakukan untuk mencapai hai itu, kita tidak hanya melakukan promosi secara besar-besaran, tapi menyediakan produk yang diinginkan oleh wisatawan,” katanya. (La Ode Amsir/Red)

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini