Dugaan Penggunaan Bahan Kimia di Tambang Rakyat Desa Anggai, Jadi Atensi Polsek Laiwui

Halsel Malut, wartaterkini.news– Tambang rakyat yang berada di Desa Anggai, Kecamatan Obi Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, diduga marak penggunaan bahan kimia berbahaya Mercuri.

Padahal pelarangan penggunaan bahan kimia berbahaya itu telah ditegaskan Presiden Joko Widodo usai menandatangani Konvensi Minamata di Kumamoto, Jepang, pada 10 Oktober 2013 yang lalu.

Pada kesempatan itu Presiden menekankan, Indonesia tentunya tidak boleh membiarkan penggunaan merkuri dalam kegiatan pertambangan.

Presiden bahkan menginstruksikan jajarannya untuk menghentikan penggunaan merkuri di pertambangan rakyat, karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan berdampak buruk pada kesehatan penambang serta warga sekitar.

Baca Juga :   Ajak warga Tingkatkan Siskamling, Kapolsek Cikarang Pusat Sambangi Pos Satkamling

Meski larangan penggunaan bahan kimia berbahaya itu di larang dalam aktivitas pertambangan rakyat, namun pelarangan tersebut nampaknya tak dihiraukan para pengusaha tromol di tambang rakyat Anggai.

Melalui penelusuran media ini, Kamis (18/1) mendapati salah satu pengusaha tomol di tambang rakyat Anggai mengaku pengolahan material biji emas miliknya menggunakan bahan kimia Mercurry.

Dari pengakuannya itu, bahan kimia berbahaya itu didapatkan dari salah satu distributor yang berada di Desa Sambiki.

“Untuk mercurri kami ini beli di salah satu distributor yang tinggal di Desa Sambiki,” ungkapnya.

Dia juga mengaku, semua pengusaha tromol di tambang tersebut mengunakan bahan merkuri yang diperoleh di distributor yang sama.

Baca Juga :   Semarak Olimpiade Paris 2024: Harapan dan Persiapan Matang Kontingen Indonesia

“Iya, hampir sebagian besar pengusaha tromol dapat mercurry di situ,” jelasnya

Terpisah Kapolsek Laiwui, Adnan Nijar mengatakan, pihak kepolisian Polsek Laiwui telah menerima informasi terkait penggunaan merkuri di tambang rakyat, hanya saja setelah dilakukan pemeriksaan di lokasi tidak menemukan barang bukti bahan berbahaya tersebut.

“Anggota sudah turun juga jauh sebelumnya untuk amankan itu cuma memang dorang susah untuk temukan barang bukti di dorang,” kata Adnan saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp, Jumat (19/1).

Selain itu, Adnan mengaku, terkendala jarak dan waktu sehingga belum bisa memastikan para pengusaha tromol di tambang rakyat tersebut menggunakan merkuri.

Baca Juga :   Presiden Cek Kualitas Pelayanan RSUD Kota Salatiga

Meski begitu, laporan penggunaan merkuri di tambang rakyat Desa Anggai selalu jadi atensi Polsek Laiwui untuk dilakukan penindakan.

“Tapi kami tetap sigap akan hal itu”, tandasnya. (Jul/Red)