Diduga Terjadi Praktik Mafia Tanah di Area IUP CV Arah Mandiri Serang

Praktik Mafia Tanah diduga terjadi di Area IUP CV Arah Mandiri yang berlokasi di Blok Batu Numpuk-Desa Nanggung, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten. (foto: Sutisna/Enggar)

Serang Banten, wartaterkini.news Praktik Mafia Tanah diduga terjadi di Area IUP CV Arah Mandiri yang berlokasi di Blok Batu Numpuk-Desa Nanggung, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten. Sehingga terkait praktik Mafia Tanah ini perlu mendapat perhatian serius baik dari Pemerintah Pusat maupun dari Pemerintah Daerah.

Hal itu disampaikan Natado Putrawan, Lawyer dari CV Arah Mandiri, Sabtu (22/06/2024). Menurutnya, ahli waris (Alm) Santono, baru-baru justru diduga menggunakan alat organisasi masyarakat (Ormas) BPPKB DPC Kabupaten Serang yang diketuai oleh Nana Kuncir.

“Pada Kamis, 20 Juni 2024 puluhan anggota Ormas BPPKB yang dipimpin oleh Nana Kuncir mendatangi Lokasi Area IUP CV Arah Mandiri yang berlokasi di Blok Batu Numpuk-Desa Nanggung, Kecamatan Kopo-Kabupaten Serang,” kata Natan sapaan akrab Natando Putrawan kepada media.

Menurutnya, CV Arah Mandiri sebelumnya melakukan proses penerbitan IUP (Izin Usaha Penambangan) Tanah Urug di atas tanah yang dikuasai oleh Ahli Waris (Alm) Ayi Intan Darma, yang berlokasi di Blok Batu Numpuk, Desa Nanggung. Sebagai Lawyer yang sedari awal memang mendampingi Cv. Arah Mandiri, dirinya mengungkap bahwa para Terduga Mafia Tanah belakangan ini pandai bermain peran seolah menjadi korban.

“Jadi luar biasa memang tindakan-tindakan para Terduga Mafia Tanah saat ini, meskipun terjadi dualisme kepemilikan, kami sedari awal sudah mempelajari riwayat tanah dan riwayat perkara kepemilikan pada masing-masing ahli waris ini. Kita tahu bahwa (Alm) Ayi Intan Darma itu memenangkan perkara di PTUN atas (Alm) Santono, dan di dalam persidangan pun sudah terungkap fakta bahwa pemilik awal dari tanah tersebut yakni (Alm) H. Encep bersaksi di bawah sumpah. Bahwa dia (H. Encep) tidak kenal dengan Santono dan tidak pernah menjual tanah kepada Santono jadi bagaimana mungkin Santono punya AJB Tanah dari H. Encep,” terang Natan.

Baca Juga :   Hamaren Education Center dan Universitas Mercu Buana Sepakat Tingkatkan Kualitas Pendidikan Bagi Pemagang di Jepang

“Justru H. Encep bersaksi di bawah sumpah, yang bersangkutan menjual tanah kepada Ayi Intan Darma. Sertifikat itu kan sifatnya tidak mutlak, masih bisa digugat sertifikat itu, jadi kalau ngawur, meskipun sertifikat apa iya mesti kita jadikan acuan,” imbuh Natado Putrawan.

Natan merasa aneh melihatnya, di mana Ahli Waris (Alm) Santono memakai Ormas menjadi alat untuk menduduki lahan di Blok Batu Numpu, Desa Nanggung. Berdasarkan sertifikat mereka, tapi tak satupun sertifikatnya menjelaskan ada yang berlokasi di (blok) itu, semua di Blok lain letaknya.

“Kan lucu, meminta pendampingan Ormas datang ramai-ramai untuk pasang plang tapi ternyata sertifikat mereka bukan di blok itu. Gaya para mafia tanah memang begitu, hampir semua keliru informasi terkait obyeknya yang penting punya sertifikat. Nah, ini luar biasanya mereka justru merasa sebagai Korban. Kan lucu ini meeliat Terduga Mafia Tanah malah bermain peran seolah mereka Korban,” tambahnya.

Baca Juga :   PT Mahanaim Grup Diduga "Mafia Tanah"Rampas Tanah Warisan Milik Anggota TNI Aktif di Labuan Bajo

Lebih lanjut, Natan menegaskan bahwa tanah yang ada di Blok Batu Numpuk itu memiliki riwayat Tanah GG, bukan Tanah Milik Adat. Berdasarkan rincian tahun 1991 yang dilakukan oleh PT Citra Lahan Utama.

“Itulah kenapa menjadi sebuah fenomena yang aneh dan cenderung bermuatan keterangan palsu di dalam akta otentik, ketika Sertifikat Milik Keluarga (Alm) Santono berdasarkan Kohir ‘C’. Dari mana datangnya kutipan ‘C’ kalau riwayat tanahnya adalah Tanah GG,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama CV Arah Mandiri, Aswa Warman saat ditemui di salah satu rumah makan di daerah Kareo, Cikande pada Sabtu (22/06/2024) mengungkapkan bahwa perusahaannya telah tertib administrasi.

“Saya sedari awal sebelum melakukan proses penerbitan IUP memang sudah mempelajari kepemilikan diatas tanah itu, ada dari keluarga (Alm) Santono punya sertifikat mengakunya di atas tanah itu. Tetapi setelah saya lihat dari semua sertifikatnya ada 8 buku tidak ada yang beralat di Blok Batu Numpuk, Desa Nanggung,” katanya.

“Semua di Blok Cimanggu, terus ada di Blok Cibuluh dan Blok Cimangg. Ya kami juga gak mau-lah bekerjasama dalam keperdataan dengan keluarga mereka, sertifikatnya ngawur semua. Makanya kami jadinya bekerjasama dengan Ahli Waris (Alm) Ayi Intan Darma, sesuai dengan UU Minerba, hak atas tanah memang harus kami selesaikan,” terang pria yang akrab disapa Wawan ini.

Baca Juga :   Kominfo Kolaborsi Rilis Prangko Digital Pahlawan Nasional dari TNI AU

Wawan menambahkan bahwa semua sertifikat dari keluarga (Alm) Santono yang bermasalah itu sudah terblokir di BPN Kabupaten Serang.

“Ya memang sudah diblokir sih semua sertifikat itu, karena kan memang bermasalah itu cacat materiil dan cacat formil. Masa iya sertifikat berdasarkan AJB tapi pemilik asal gak kenal dan gak pernah mengaku menjual (tanah) itu kepada Santono, terus tiba-tiba jadi sertifikat Santono. Sudah dilaporkan juga ke Polda Banten terkait dugaan memasukkan keterangan palsu di dalam Akta Otentik, Laporan Polisi Nomor LP/B/125 tanggal 16 Mei kemarin. Sekarang (laporan kasus itu) masih dalam proses penyelidikan (pihak kepolisian),” tutupnya mengakhiri.

Sebelum berita ini dimuat, awak media masih mencoba mengkonfirmasi pihak-pihak terkait. (Enggar/Red)