Dialog Kemanusiaan Sebagai Jalan Mewujudkan Kebersamaan, Merawat Keberagaman di Bumi Morotai

Pdt. Aldis

Morotai Maluku Utara, wartaterkini.news Berbicara Komitmen menjalankan Dialog antar umat beragama dan relasi sosial kemasyarakatan itu erat kaitannya dengan figur Adlis DJ Iwisara.

Putera terbaik Morotai yang mempunyai prinsip dan konsistensi untuk membangun Morotai melalui pemberdayaan masyarakat Morotai terutama di wilayah Morotai Selatan dan Morotai Selatan barat serta Pulau Rao.

Mengenal Adlis DJ Iwisara, dia adalah salah satu tokoh yang punya prinsip dan komitmen dalam menyikapi setiap perkembangan dari sisi keagamaan, yang begitu peduli menjaga serta melestarikan toleransi antar umat beragama, pada umumnya dan khususnya di Kabupaten Pulau Morotai.

Olehnya itu, tutur Pendeta Aldis sapaannya, bahwa soal Morotai sangat kental dengan memori tanah perang dunia II di sekitar tahun 1943-1945 melalui peristiwa Pemboman di negeri Jepang yang Bom Atomnya diluncurkan dari bandara Pittu Street Morotai.

Kedua Bom Atom itu: “Little Boy” diarahkan ke Hirosima, 6 Agustus 1945 dan “Fat Man” menuju Nagasaki, 9 Agustus 1945 oleh America dan Sekutunya dibawah pimpinan Douglas Mac Arthur. Atas Peristiwa ini Jepang menyerah di hadapan America dan Sekutunya di Morotai, sehingga Soekarno bersama rekan-rekan pemudanya merapatkan barisan dan mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia dari para penjajah.

Maka pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia.
Di sini Pulau Morotai menjadi penting dan sentral dalam proses perjuangan merebut Kemerdekaan dan sekaligus mengisi Kemerdekaan.

Kemudian, Morotai dalam perjalanan perkembangan pasang-surutnya, akhirnya resmi menjadi Kabupaten defenitif pada 20 Maret 2008 melalui UU No. 53 Tahun 2008 yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia.

Baca Juga :   Semarak Olimpiade Paris 2024: Harapan dan Persiapan Matang Kontingen Indonesia

“Dengan segala potensi Sumber Daya Alam yang mumpuni dan Panorama Bahari Lautnya serta spot-spot beragam Pulau yang sangat indah dan mempesona untuk dikembangkan melalui konsep yang cemerlang dan strategi yang cerdas lewat program-program kerja yang menyentuh dan berdampak langsung dalam meningkatkan taraf hidup seluruh masyarakat Pulau Morotai,” pungkasnya

Pdt. Aldis yang juga selaku Kader tulen DPD PAN (Paratai Amanat Nasional) Pulau Morotai yang memiliki KTA (Kartu Tanda Anggota) Parpol PAN sejak Tahun 2011 dengan jabatan awal Penasehat Partai PAN, Wakil Ketua PAN dan sampai sekarang Tahun 2024 ini selaku Bendahara Partai DPD PAN Pulau Morotai.

Ia menjelaskan bahwa Morotai kedepannya harus dikembangkan sebagai jalur sentral transit (Transit Zone) untuk Indonesia Timur dan antar Negara yang ada di zona Pasific seperti: Hawai (AS), Jepang, Cina, Filipina dan Palau, serta Papua Nugini dan Australia, sehingga konsep untuk Pulau Morotai sebagai “Segitiga Emas” dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) menjadi terwujud dengan baik.

“Karena itu, kita semua perlu bergandengan tangan membangun Morotai mulai dari usulan pembangunan Bandara Internasional Sipil yang boleh dikaji untuk dipertimbangkan di wilayah Morotai Timur (Sangowo) dan Peningkatan Pembangunan ulang Pelabuhan Laut Bongkar-Muat dan Pelabuhan PELNI secara memadai,” jelas Aldis, Minggu (07/07/2024)

Menurutnya, sambil mengembangkan Pemberdayaan di bidang Kelautan dan Perikanan serta Pertanian-Perkebunan terapan secara modern sekaligus menumbuhkan kesadaran semua masyarakat Morotai untuk mengembangkan Budaya Kearifan Lokal melalui pengembangan Musik Tradisional dan musik Modern serta pengembangan olahraga bagi generasi muda Morotai.

Lebih pasnya, pria suku Sanger Talaud, asal Daruba Pulau Morotai ini, bekerja sebagai seorang pelayan Tuhan. Kepeduliannya terhadap lingkungan dan toleransi, antar umat beragama tidak perlu diragukan, berjiwa sosial, dan melakukan komunikasi-komunikasi antar lembaga, organisasi, tidak lain hanya demi mencegah munculnya konflik sosial di masyarakat.

Baca Juga :   Puluhan Pelajar SD Se-OKI Bersaing di Ajang O2SN

Munculnya konflik sosial ala sosok Pendeta ini, dan bagaimana menyikapi serta berakhir pada penyelesaian yang tuntas. Menurutnya, konflik sosial adalah peristiwa yang tidak bisa dihindari karena hampir selalu terjadi dalam kehidupan manusia.

Meski demikian, penyebab munculnya konflik dapat diminimalisir, salah satunya dengan mengetahui beberapa gejala yang akan terjadinya konflik sosial tersebut.

Selaku Pemerhati Pemberdayaan Sosial, Aldis memberikan tiga garis besar penyebab terjadinya konflik, mulai dari konflik antar kepentingan negara seperti Rusia vs Ukraina, Cina vs Taiwan, Israel vs Palestina, Korea utara vs Korea Selatan, yang juga berdampak langsung maupun tidak langsung pada negara Indonesia termasuk Kabupaten Pulau Morotai, serta ada juga konflik egosentris SARA sekaligus fanatisme sempit dalam melihat sesama yang lain.

Munculnya konflik- konflik tersebut karena ada faktor penyebab yang menyulut diantaranya adalah; pertama, Perbedaan pendirian dan keyakinan orang perorangan yang telah menyebabkan konflik antar individu. Dalam konflik-konflik seperti ini, terjadilah bentrokan-bentrokan pendirian dan masing-masing pihak pun berusaha menjatuhkan lawannya.

Berikut yang kedua, sambungnya, perbedaan kebudayaan tidak hanya menimbulkan konflik antar individu, tetapi juga bisa antar kelompok, pola-pola kebudayaan yang berbeda akan menimbulkan pola-pola kepribadian dan pola-pola perilaku yang berbeda pula dikalangan khayalak ramai.

Selain itu, perbedaan kebudayaan akan mengakibatkan adanya sikap etnosentris, yakni sikap yang ditunjukan kepada kelompok lain bahwa kelompoknya adalah yang paling baik.

Baca Juga :   Tingkatkan Perkembangan Desa, Aparatur Desa di Morotai Ikuti Bimtek Penyusunan Profil Desa

Lalu yang ketiga adalah, Perbedaan kepentingan, mengejar tujuan kepentingan masing-masing yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok akan bersaing dan berkonflik untuk memperebutkan kesempatan dan sarana prasarana.

“Berbicara mengenai penyebab terjadinya konflik sosial, juga bukan hanya mengamati, meramalkan bahwa akan terjadi, namun hal ini bisa dapat dibuktikan dengan adanya fakta-fakta yang pernah terjadi di Bumi Moro dan dengan demikian kita semua harus menjaga agar tidak lagi terulang dengan cara Dialog Kemanusiaan yang tulus sebagai jalan untuk mewujudkan Kebersamaan dalam Merawat Keberagaman di bumi bibir pasific ini,” tambahnya.

Doc. Hidup berdampingan bersama Tokoh Agama Islam di Morotai

Dengan demikian harus ada langkah antisipatif agar kelak tidak ada lagi terjadi konflik sosial. Ia konsen dalam melakukan komunikasi, silaturahmi dengan tokoh Agama, tokoh Masyarakat, tokoh Pemuda, tokoh Perempuan dan tokoh Adat di Kabupaten Pulau Morotai.

“Saya berharap, meski adanya perbedaan pendirian, Suku, Agama dan Ras Antar golongan bukan lalu memecah belah kita di Morotai, namun bagaimana caranya kita menjaga, merawat, perbedaan ini sebagai kekayaan dan kekuatan secara harafiah dan dewasa, sebab merujuk pada semboyan Bhineka Tunggal Ika dapat diartikan Berbeda untuk Bersatu atau dengan kata lain meskipun beranekaragam pada hakikatnya Bangsa Indonesia tetap merupakan Satu Kesatuan,” tutup Pdt. Adlis
(Endi/Red)