Dampak Kekeringan di Pamekasan Alami Peningkatan

Pamekasan Jatim, wartaterkini.newsData Kekeringan di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur di tahun 2022 mengalami peningkatan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, Amin Jabir menyampaikan, sesuai dengan survei yang dilakukan ada peningkatan wilayah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Pamekasan.

“Dari hasil data yang diperoleh kami bahwa, potensi kekeringan di wilayah Kabupaten Pamekasan semakin meluas, walaupun kecamatannya tetap 10 Kecamatan, terkecuali Kecamatan Galis dan Kecamatan Pamekasan,” kata Kepala BPBD Pamekasan Jabir, Rabu (31/08/2022).

Dikatakan, potensi peningkatan kekeringan di dusun yang ada di beberapa desa.

“Awalnya yang mengalami kekeringan di 278 Dusun menjadi sekitar lebih dari 380 dusun,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Di Minta Tindak Lanjuti Surat KASN Dan Rekomendasi DPRD Gantikan Sekda SBB

Menurutnya, permasalahan ini dikarenakan faktor lingkungan, sekarang debit sumur gali tambah mengecil. Karena infiltrasi air ke tanah sangat berkurang.

“Penyebab semakin mengecilnya infiltrasi air dikarenakan banyaknya penggundulan hutan. Artinya, daya tangkap akar dari pohon itu menjadi bagian besar dari proses infiltrasi air, supaya air tersebut tidak menjadi air permukaan,” jelasnya.

Jabir menyebutkan bahwa, sesuai data di Pemerintahan Kabupaten Pamekasan (DPRKP) bahwa di tahun 2021 ada pengeboran sebanyak 305 pengeboran. Jadi, apabila ada 305 pengeboran apabila debit airnya minimal 2 persen maka, ada 610 liter/detik, bisa menyelesaikan permasalahan kekeringan di Kabupaten Gerbang Salam ini. Namun, hampir tidak mampu mengurangi potensi kekeringan yang ada.

Baca Juga :  Polres Magelang Gelar Vaksinasi Santri dan Pelajar

“Hal itu kemungkinan dikarenakan pengeboran tersebut tidak sesuai dengan inspektasi (rencana), durasinya pun tidak terlalu panjang,” ujarnya.

“Kita akui bahwa saat ini yang di lakukan oleh pemerintah (pengeboran) merupakan hal untuk menanggulangi kekurangan air bersih. Tapi hasil yang dicapai airnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan baik yang dilakukan oleh kabupaten/kota secara mandiri atau bantuan dari APBD Provinsi, atau dari Kementerian PUPR,” tegasnya.

Yang perlu dilakukan untuk memperbesar infiltrasi air (penyerapan air) dengan cara pemulihan hutan (konservasi, reboisasi) atau membuat tangkapan air, dengan begitu air tidak langsung ke sungai.

Baca Juga :  Peduli Kasih Pemuda Demokrat Indonesia SU1 Bantu Kaum Dhuafa

“Kami telah melakukan sebuah solusi dengan pembuatan kampung tadah hujan. Artinya, air ditampung untuk menciptakan kondisi stabilitas air dalam tanah,” paparnya

Sementara itu ADM KPH Madura Kelik, melalui Kasi Humas KPH Madura Suhartono menyampaikan bahwa pihaknya, secara kontinyu melakukan penanaman kembali setelah pelaksanaan penebangan.

“Pihak kami melakukan penanaman sesuai dengan RTT yang ada. Biasanya penanaman dilakukan apabila sudah turun hujan antara bulan November, Desember dan Januari sampai berhenti turun hujan” jelasnya. (Mz/Red)

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini