banner 728x250

BRIN Tawarkan Model Agrosilvofishery untuk Budi Daya Ekosistem Gambut

Jakarta, wartaterkini.news–Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) menawarkan model agrosilvofishery yaitu sinergitas dan kolaborasi pada sektor pertanian, kehutanan, serta perikanan, pada fungsi budi daya ekosistem gambut.

Peneliti Ahli Madya PREE BRIN, Bastoni, pada acara Jamming Session seri ke-3 yang dilakukan secara daring pada Kamis (18/4/2024), menyampaikan, bahwa model agrosilvofishery dapat diimplementasikan untuk restorasi ekosistem gambut yang terintegrasi berbasis masyarakat. Hal tersebut juga sejalan dengan Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG).

“Implimentasi model agrosilvofishery pada ekosistem gambut perlu dilakukan secara selektif, yaitu pada fungsi budidaya ekosistem gambut. Dengan tipologi lahan rawa mineral, lahan rawa mineral bergambut, sampai lahan gambut sedang yaitu kedalaman ≤ 150 cm. Dengan kedalaman dan durasi genangan air ekstrim dalam dan lama, pada fungsi budi daya ekosistem gambut,” ujar Bastoni, dikutip dari Humas BRIN pada Jumat (19/4/2024).

Baca Juga :   Hadir Apel Siaga, Bupati OKU Selatan Ajak Semua Pihak Jaga Kondusifitas Daerah 

Bastoni optimis bahwa implementasi model agrosilvofishery pada beberapa lokasi di Sumatra Selatan dapat meningkatkan diversifikasi komoditas, meningkatkan pendapatan masyarakat setempat, serta mencegah kebakaran lahan gambut. Hal itu ia yakini karena berdasarkan hasil penelitiannya.

“Implementasi model agrosilvofishery terbukti membuka peluang untuk menumbuhkan dan membangun sinergi, kolaborasi multi sektor serta multi pihak. Dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut di Indonesia,” ujarnya.

Kepala PREE BRIN, Anang Setiawan Achmadi, turut menyampaikan, Indonesia adalah pemilik hutan rawa gambut tropis terluas di dunia yang mencapai 13,4 juta hektare. Ekosistem unik yang terbentuk secara alami sejak ribuan tahun lalu ini, faktanya memegang peranan penting sebagai salah satu faktor pengendali perubahan iklim global.

Baca Juga :   BRIN dan MUI Siap Dukung Pemulihan Lingkungan Berbasis Iptek dan Agama

“Restorasi ekosistem gambut merupakan salah satu program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon. Untuk itu, perlu kita dukung melalui aksi nyata berbasis riset dan inovasi, salah satunya yaitu restorasi ekosistem gambut yang melibatkan masyarakat bersama mitra,” kata Anang.

Salah satu narasumber dari Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen PPKL KLHK), Lelawaty Simamora, bahwa Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) sudah dilakukan KLHK sejak 2021.

Lelawaty menjelaskan terdapat empat tujuan DMPG, pertama, meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam perlindungan serta pengelolaan Ekosistem Gambut (EG). Kedua, meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan dalam perlindungan serta pengelolaan EG.

Tujuan yang ketiga yakni menumbuhkembangkan budaya dan kearifan lokal untuk pelestarian fungsi EG, dan terakhir yakni untuk meningkatkan perekonomian masyarakat selaras dengan pelestarian EG.

Baca Juga :   Lapas Kelas llB Idi Gelar Apel Siaga 3+1 Berantas Halinar

“Sampai 2023, DMPG sudah terbentuk di Sumatra, Kalimantan, dan Papua yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan mitra lainnya. Salah satu strategi keberlanjutan program yaitu melalui integrasi teknologi dan inovasi, serta pelibatan pemangku kepentingan termasuk lembaga riset seperti BRIN,” ujar Lelawaty. (*)