banner 728x250

BRIN dan MUI Siap Dukung Pemulihan Lingkungan Berbasis Iptek dan Agama

Jakarta, wartaterkini.news–Kerusakan lingkungan yang terjadi bukan sekadar disebabkan oleh faktor teknikal semata, namun juga diakibatkan dari ulah manusia. Jumlah populasi manusia, kebutuhan, dan teknologi yang semakin tinggi, maka ekstraksi dari limbah yang dihasilkan juga akan semakin meningkat.

Dikutip  dari Humas BRIN pada Jumat (5/4/2024), Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam – Majelis Ulama Indonesia (LPLH & SDA MUI), Hayu Prabowo, mengatakan bahwa krisis iklim dan lingkungan hidup berakar pada interkoneksi kompleks faktor ekonomi, sosial dan budaya, serta sistem kepercayaan, sikap dan persepsi sosial. Sehingga, moral dan etika merupakan faktor yang menentukan kemampuan kita untuk mengatasinya.

“Dalam kegiatan ekonomi kita mengeluarkan limbah. Di sinilah letaknya, perilaku/syahwat manusia menjadi berlebihan. Di Ramadhan ini kita dilatih bagaimana mengontrol syahwat kita. Di dunia ini juga sekarang banyak muncul teori ekonomi de-growth, salah satunya ekonomi sirkular yang dapat membantu ekstraksi (limbah) bumi turun,” ujar Hayu saat acara sarasehan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan topik “Kekayaan Khazanah Ilmiah dan Nilai-nilai Spiritual dalam Perlindungan Lingkungan” pada Rabu (3/4/2024) lalu.

Baca Juga :   BRIN Teliti Smart Defense untuk Memperkuat Sistem Pertahanan IKN

MUI telah mengeluarkan fatwa tentang lingkungan hidup dan sumber daya alam antara lain Fatwa nomor 2 tahun 2010 tentang Daur Ulang Air, Fatwa 22/2011 tentang Pertambangan Ramah Lingkungan, Fatwa 1/2015 tentang Pendayagunaan ZISWAF untuk Pembangunan Sarana Air dan Sanitasi Masyarakat, Fatwa 4/2014 tentang Pelestarian Satwa Langka, Fatwa 30/2016 tentang Hukum Pembakaran Hutan dan Lahan. Hal itu adalah upaya dalam menghadapi adanya perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrim, yang dapat juga mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pihak LPH dan SDA MUI, Sugijanto Soewadi menyampaikan, bahwa salah satu upaya kontribusi yang dapat dilakukan umat Muslim dalam hal ini ialah dengan menerapkan konsep green wakaf.

Ia juga mengatakan, wakaf hijau merupakan wakaf yang digunakan untuk kegiatan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

Baca Juga :   Delegasi Kamboja Pelajari Pengelolaan Limbah Nuklir di BRIN

“Wakaf hijau dapat diartikan sebagai menyerahkan aset wakaf untuk mencapai kelestarian alam. Ini adalah cara untuk berbakti pada komunitas lokal, memberikan manfaat untuk masyarakat, dan berperan aktif dalam menjaga alam dan keseimbangan ekologi untuk mencapai keberlanjutan. Investasi berkelanjutan ini contohnya, menyediakan panel surya untuk sekolah dan masjid, membuat sumur dan distribusi air untuk tenaga surya, atau menanam sayuran di taman sekitar masjid,” ujar Sugijanto.

Pengembangan ilmu pengetahun untuk pemulihan lingkungan juga bisa dilakukan dengan cara Hutan Wakaf (HW), salah satunya berada di Bogor dan Aceh.

Kehadiran HW di daerah tersebut cukup menjawab tantangan dan problematika lokal antara lain rawan erosi dan tanah longsor, tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat rendah, dan daerah pertanian yang kurang ramah lingkungan.

“HW ini memberikan keseimbangan antara pembangunan dan perlindungan lingkungan. Pada satu sisi tetap dilaksanakan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat dan di sisi lain dilakukan kegiatan pelestarian lingkungan hidup secara integral dan berkelanjutan dengan menanami lahan dengan tumbuhan atau tanaman yang diperoleh dari wakaf,” kata Sugijanto.

Baca Juga :   Tony Blair Institute Dukung Uji Coba Konektivitas Digital IKN

Pada agenda tersebut, diharapkan mampu untuk mengarusutamakan aksi mitigasi dan adaptasi agar sivitas akademik dan masyarakat beragama mampu memobilisasi aksi berbasis iptek dan agama, serta berkontribusi dalam mengadvokasi kebijakan yang melindungi hutan dan hak-hak masyarakat adat.

Oleh karena itu, dipandang perlu untuk melakukan integrasi kedua komponen tersebut, sehingga dampak dari keduanya akan semakin luas. Kegiatan ini merupakan bagian penting untuk mengintegrasikan khazanah ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritual dalam perlindungan lingkungan. (*)