Anggota DPRD OI Kecewa Terkait Proyek Jalan Aur Standing Yang Diduga Asal-Asalan

OGAN ILIR,wartaterkini.news–Peningkatan ruas jalan dengan cor rabat beton yang terletak di Desa Penyandingan sampai Desa Ulak Standing dengan jumlah Anggaran dana Rp.1.978.000.000 yang dikerjakan oleh CV.Mulia Bersama dengan sumber dana APBD 2018 dan masa pelaksana pekerjaan150 hari atau 5 bulan menurut keterangan papan kegiatan dinilai tidak sesuai.

Proyek peningkatan ruas jalan cor rabat beton ini diduga dikerjakan asal jadi dan sarat KKN. Terlihat di lapangan bahwasanya bangunan jalan ini sangat tidak wajar dan penuh tanda tanya besar serta penuh kejanggalan. Hal ini dapat dilihat mulai dari letak pembangunan dan cara pengerjaannya seperti dikerjakan sambil bermain-main saja (penuh lelucon). Menurut papan informasi proyek diterangkan bahwa pembangunan jalan tersebut seharusnya dikerjakan di Desa Penyandingan Kecamatan Sungai Pinang Sampai Ke Desa Ulak Aur Standing Kecamatan Pemulutan Selatan.

Tapi kenyataannya di lapangan malah pembangunan ini dikerjakan di Desa Sejangko Kecamatan Rantau Panjang dan di Desa NTB Kecamatan Pemulutan Selatan. Ini tidak sesuai dengan petunjuk teknis papan proyeknya yang jelas disebutkan letaknya pembangunan jalan tersebut.

Baca Juga :  Pisah Pamit Pjs Bupati, SMSI OKU Selatan Serahkan Plakat Kenang-Kenangan

Berikut keterangan nama papan proyek yang terpasang di lokasi :

1.Peningkatan Jalan Ruas

2.Penyandingan – Ulak Uarstanding

3.Nilai Dana :1.978.000.000 Miliyar

4.Pelaksana :CV.MuliaBersama

4.Sumber Dana : APBD Tahun 2018

5.Masa Pelaksanan :150 Hari.

PPK Proyek yang berasal dari Binamarga Pekerjaan Umum (PU BM) Tarzan saat dikonfirmasi via telpon Selasa, 30 / 10 /2018 mengatakan pembangunan jalan ini sepanjang total 6500 meter, lebar 5 meter dan tebal 20 sentimeter dengan pengerjaan pembangunan yang dimulai pada bulan September kemarin dan saat ini sudah selesai dikerjakan. Masalah ruas jalan batas pembangunan sudah sesuai prosedur dan tidak menyalahi aturan. Disinggung masalah jalan yang putus nyambung, hal itu dikarenakan ada sebagian tanah milik warga yang tidak diperbolehkan adanya pembangunan pengecoran jalan tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh PPTK PU Bina Marga.

“Proyek ini sudah sesuai prosedur yng ada. Mengenai jalan yang putus nyambung, itu dikarenakan ada tanah milik warga yang tidak diperbolehkan dibangun jalan. Kami sudah koordinasi dengan pihak kepala kades setempat, dan menurut kades biarlah kalau warga tidak boleh di cor jalan itu, jangan jadi menambah masalah nanti, makanya terjadi putus-putus seperti itu”, ujarnya.

Baca Juga :  Malam Grand Final Bujang Gadis OKU Selatan, Kecamatan Warkuk dan Kisam Tinggi Raih Juara

Sementara itu masyarakat di sekitar pembangunan jalan ini menyampaikan ke wartawan, Rabu 24/10/18 bahwa pembangunan yang terletak di Desa NTB ini panjangnya sekitar 300 meter dengan waktu pengerjaan hanya 1 Minggu.

“Menurut saya cara pengerjaannya ini sangat kotor dan aneh, terkesan banyak cari untung besar ketimbang kualitas bangunannya. Ini jelas merugikan negara”, ujar salah satu warga.

Pembangunan jalan cor rabat beton di Desa NTB ini baru masuk 3 minggu sudah selesai pengerjaannya, tetapi sudah terlihat beberapa material yang keluar dari badan jalan cor tersebut dan ada bagian jalan yang terlihat sudah retak.

“Pengerjaan jalan ini asal asalan saja. Yang penting selesai. Cara pengerjaannya pun terputus putus. 20 meter dibangun,20 meter tinggalkan,10 meter di bangun ,20 meter ditinggalkan,5 meter dibangun, 20 meter ditinggalkan dan sampai seterusnya sepanjang 350 meter. Berbeda dengan pengerjaan di Desa Sejangko di mana sepanjang 300 meter tidak ada yang putus-putus. Hanya di desa kami saja seperti taik sapi secumpuk-cumpuk,” tmbah warga lainnya.

Baca Juga :  Wagub Sumsel Hadiri Pemusnahan Barang Bukti Senpi Rakitan

Ditambahkan lagi oleh warga setempat bahwa ketebalan cor diduga tidak sesuai dengan semestinya yakni 20 sentimeter. Sementara dilapangan ketebalan cuman mencapai 17-18 sentimeter. Masyarakat meminta kepada bupati agar pihak kontraktor dan dinas terkait bisa bertanggungjawab atas proyek tersebut .

Sementara itu, salah satu anggota DPRD OI Komisi IV, Suharmawinata saat dihubungi via WhatsApp mengatakan bahwa jalan yang dibangun dari ruas penyandingan aur standing diusulkan melalui pokok-pokok pikiran anggota DPRD OI hasil reses. Titik yang diusulkan sebenarnya dari jembatan Mawaddah III ke arah Tanjung Raja namun dikerjakan dari Desa NTB. Berdasarkan aturan tersebut tidak menyalahi prosedur karena sudah diruas yang benar yaitu penyadingan Aur standing.

“Tapi saya selaku penampung pokkir kecewa karena titik yang saya usulkan dalam pembahasan Pra Anggaran 2018 kemarin tidak sesuai dengan titik nolnya. Untuk kualitas bangunan nanti saya akan cek kelapangan”, ujar Nata.( arman / Redaksi )

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini