Seluk Beluk “Simon Bageur” Alat Peringatan Dini Bahaya Besutan Tekmira

oleh -264 views

JAKARTA, wartaterkini.news–Namanya agak unik Simon Bageur alias Sistem Monitoring Bahaya Lingkungan dan Kegeologian (Simon Bageur). Hasil besutan  besutan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Tekmira Kementerian ESDM.

Simon Bageur adalah sistem peringatan dini yang bekerja secara cepat, akurat dan aktual terhadap bahaya lingkungan dan geologi di sekitar wilayah pertambangan, di antaranya bahaya limbah cair, air asam tambang, banjir, pergerakan batuan dan longsor di sekitar wilayah pertambangan dan penduduk.

Simon Bageur  ini, demikian diungkapkan Kepala Puslitbang Tekmira, Hermasyah di Jakarta, Senin (10-06-2019), akan segera dipasang di dua perusahaan tambang di Kalimantan Selatan, yakni PT Jorong Barutama Greston di empat titik, serta satu titik di PT Tanjung Alam Jaya.

Sebelumnya, demikian ungkap Hermansyah, para peneliti telah melakukan survei lokasi dan sejumlah parameter untuk pemasangan Simon Bageur, diantaranya pengukuran tingkat keasaman (PH), total padatan tersuspensi (TSS), level air (water level), debit air, Kadmium (Cd), Zat Besi (Fe) dan Mangan (Mn).

Teknologi ini dapat melakukan pengukuran jarak jauh dan melaporkan hasil informasinya secara real timekepada operator, sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan dan tindakan secara cepat dam akurat.

Baca Juga :  Polres Musi Rawas Gelar  Halalbihalal Usai Apel Pagi

Inovasi ini merupakan adaptasi peralatan serupa yang telah dijual di pasaran, namun sistemnya dikembangkan agar lebih lengkap dan bekerja secara terpadu, baik dari sisi pemantauan kualitas dan kuantitas air, klimatologi, meteorologi dan geofisika maupun bahaya kegeologian lainnya. Simon Bageur mudah dikombinasikan dengan alat lain, sehingga menjadi alat baru yang dapat berfungsi untuk berbagai kondisi.

Alat ini dapat membaca parameter secara otomatis dan realtime. Pengoperasiannya dapat dilengkapi dengan sistem tenaga surya, sehingga dapat digunakan di daerah yang belum terjangkau aliran listrik.

Daerah terpencil yang sulit mendapat sinyal jaringan telepon masih dapat menggunakan alat ini karena media transmisi tidak hanya dari sinyal 3G/4G, tetapi dapat melalui kabel, radio, SMS (short messaging services), GPRS dan satelit.

Dari segi sosial dan ekonomi, perusahaan tambang untuk membantu masyarakat sekitar dalam hal mitigasi bencana. Tanah longsor, banjir, pergerakan tanah, ataupun pencemaran air tanah akan mudah terdeteksi, sehingga lingkungan sekitar akan terjaga dan masyarakat akan merasa aman.

Baca Juga :  Jelang Lebaran, BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Setelah mengaplikasikan SIMON BAGEUR untuk pemantauan air, PT Jorong Barutama Greston dapat menurunkan biaya tenaga kerja untuk pengawasan serta biaya operasional pemakaian kapur untuk penetralisir pH, sebesar Rp 268 juta per tahun. Pengurangan pemakaian kapur sebesar Rp100 juta/tahun sedangkan tenaga kerja sebesar Rp168 juta/tahun).

Dari segi lingkungan, sistem monitoring air asam tambang atau sistem pemantauan limbah cair terus menerus dalam jaringan (sparing) pada teknologi Simon Bageur akan menjaga dan memastikan agar air tanah di sekitar tambang tidak tercemar.

Sejumlah perusahaan tambang telah mengaplikasikan teknologi ini, antara lain; PT Bukit Asam Unit Penambangan Ombilin (UPO), Sumatera Selatan, sebagai sistem pemantauan kondisi ventilasi (suhu, gas, udara, kecepatan angin, pergerakan tanah/deformasi batuan) dan sistem drainase air tambang bawah tanah (2008), PT Berau Coal, Kalimantan Timur, sebagai sistem peringatan dini untuk daerah rawan longsor dan dapat melakukan mitigasi bencana sebelum longsor terjadi, berkat isyarat sensor alat ini (2011). PT Astaka Dodol, Sumatera Selatan, sebagai sistem pemantauan kualitas air di sekitar reaktor underground coal gasification (UCG) (2014).

Baca Juga :  Senin Nanti Tiket Nonton MXGP 2019 Dilaunching, Segini Harganya

PT. Jorong Barutama Greston, Kalimantan Selatan (2018) dan PT. Tanjung Alam Jaya, Kalimantan Selatan (2019), menggunakannya sebagai sistem pemantauan limbah cair terus menerus dalam jaringan. Limbah cair perusahaan PT. Jorong Barutama Greston kini telah sesuai dengan parameter yang diijinkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Teknologi Simon Bageur telah menerima penghargaan 102 Inovasi Indonesia dari Business Inovation Center (BIC) pada tahun 2010. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sistem ini sudah mencapai 80%, sedangkan sisanya (20%) merupakan kebutuhan sensor teknologi tinggi, yang saat ini baru dapat dipenuhi produk dari luar negeri.

Puslitbang Tekmira akan terus mengembangkan teknologi ini dan diharapkan dapat menjadi early warning system mutakhir pada kebencanaan yang dapat diterapkan di industri pertambangan dan industri lainnya yang memerlukan sistem moniroring jarak jauh di seluruh Indonesia. (Esdm/Red)