Proyek Jembatan Sei Titi Satu Pangkalan Dodek Tidak Jalankan SOP, Tiga Remaja Terjun Bebas

oleh -155 views

Batu Bara Sumut, Wartaterkini.news – Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Pribahasa ini yang cocok untuk tiga remaja pengendara sepeda motor, yang jatuh di proyek Jembatan Sei Titi Satu yang tak kunjung selesai ini.

Malangnya, tiga remaja asal Desa Durian ini terjun bebas ke dalam sungai, sehingga mengakibatkan luka ringan, dan sepeda motornya rusak karena tenggelam di dalam sungai. Jumat (25/12/2020).

Hal itu dikarenakan rekanan proyek tidak membuat Banner pemberitahuan, dan garis line di sekitar proyek, sehingga keamanan bagi pengguna jalan disekitar proyek sangat membahayakan. Ditambah lagi, proyek yang sudah 150 hari dikerjakan ini, tidak juga menyiapkan jalur alternatif jembatan yang layak untuk dilalui.

Baca Juga :  Kepala Pusat Infrastuktur Kementrian Bersama Jica Jepang Diterima Walikota Tebing tinggi

Sebut saja bunga, gadis belia asal Desa Durian yang jatuh ke sungai, dilokasi proyek ini mengatakan, ” kalau jembatan alternartifnya sangat susah dilalui dan berlobang-lobang, Jembatannya susah dilalui dan berlobang, makanya aku kehilangan kendali dan jatuh kebawah”, ucapnya kesal kepada awak media.

Selain tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP), proyek yang menggunakan Anggaran APBD Provinsi, yang sebesar Rp. 5.284.430.300 ini juga, diduga markup dan telah merugikan negara.

Hal itu dikatakan ketua Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara & Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA-RI) Kabupaten Batu Bara, Sultan Aminuddin kepada awak media.

Pria yang akrab disapa Ucok Kodam ini mengatakan, Berdasarkan investigasinya di lapangan, Ia melihat berbagai indikasi kecurangan, dan penyimpangan penyimpangan yang terjadi pada proyek, yang dikerjakan PT. Ridho Anugrah ini.

Baca Juga :  Sungguh Keji, Seorang Suami Tega Membakar Istrinya Sendiri

“Hari rabu kemarin kami turun untuk investigasi pada proyek itu, dan BPI melihat ada nya kejanggalan pada diafragma, penggunaan triplek yang seharusnya ketebalan 12 mm, namun dipasang triplek ketebalan 9 mm, itupun bahan bekas, dan banyak yang lainnya”, bebernya.

Dia juga menambahkan, Abutment penahan bahu jalan jembatan telah mengalami retak vertikal dan terlihat jelas, dengan adanya tambalan atau sisipan di titik yang retak, dan Abutment juga belum rampung padahal sudah dipenghujung tahun 2020.

”Kami juga melihat abutment penahan bahu jalan jembatan, telah mengalami retak vertikal, dan adanya tambalan pada titik yang retak, pada hal fungsi abudment sangat vital bagi untuk menahan beban jembatan, itu sangat membahayakan kelak bagi pengguna jalan”, ujar Ucok Kodam.

Baca Juga :  PTPN III Diminta Koreksi Kinerja Kebun Aek Nabara Utara

Ditanya soal terkait temuan yang ditemukan, Ketua BPI KNPA Batu Bara mengatakan akan mengusut tuntas atas kerugian negara yang dilakukan PT. Ridho Anugerah ini.

“kita sudah ambil sample adukan semen dan pasir pada Tembok Penahan Tanah, yang diduga kualitas adukannya tidak sesuai, dan temuan ini akan kita lanjutkan untuk di usut sampai tuntas, karena telah merugikan negara, dan hak hak bagi masyarakat yang pengguna jalan”, ucapnya mengakhiri. (Albs70/Red)

Print Friendly, PDF & Email