Dampak Covid-19, Pedagang Takjil dan Pedagang Keliling Harapkan Empati Pemda OKU Selatan

oleh -1.126 views

OKU Selatan Sumsel, wartaterkini.news–Lemahnya perekonomian pasca serangan Pandemi Covid-19 yang melanda hampir di seluruh bagian dunia juga terjadi di Indonesia, tak terkecuali di Provinsi Sumatera Selatan tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Hal ini tampak dari sepinya pasar tradisional juga pasar mingguan (kalangan), bahkan beberapa wilayah di OKU Selatan menutup pasar mingguan guna menghindari terciptanya kerumunan atau keramaian.

Terlebih saat ini merupakan bulan Ramadhan dimana biasanya masyarakat berbondong-bondong ke pasar untuk membeli kebutuhan berbuka dan sahur.

Khusus untuk kebutuhan berbuka, biasanya para pedagang makanan buka puasa menjual dagangannya di pasar beduk namun tahun ini pasar beduk ditiadakan untuk mencegah meluasnya virus Corona. Tampak beberapa pedagang masih menjual dagangannya di sekitar pasar tengah, sepanjang jalan protokol pada hari pertama puasa Ramadhan 1441 H, Jum’at (24-04-2020).

Baca Juga :  Satu Anggota DPRD Provinsi Jabar Meninggal Dunia, Terpapar Covid 19

Pantauan di lapangan, suasana tidak terlihat ramai seperti bulan Ramadhan sebelumnya. Para pedagang yang berjualan merupakan pedagang yang memang membuka lapak di sepanjang jalan protokol tersebut sebagai mata pencaharian mereka.

Para pedagang ini mengeluhkan sepinya pengunjung dan berkurangnya omzet mereka. Biasanya bila bulan puasa pendapatan mereka mengalami kenaikan karena banyak warga OKU Selatan yang ngabuburit sambil mencari menu berbuka puasa.

“Sekarang sepi, pada beli online semua. Apalagi banyak pedagang dadakan yang menjual dagangannya lewat facebook dan WA. Kita jadi kena imbasnya juga. Masih untung balik modal, tidak sampe rugi,” ujar Joko, salah satu pedagang takjil.

Tak hanya Joko, para pedagang lainnya juga mengeluhkan situasi perekonomian yang makin lemah.

Baca Juga :  Apkasi Ajak Daerah Percepat Realokasi APBD Hadapi Covid-19

“Istilahnya kalo enggak jualan gak bisa belanja, jualan juga kadang dapat untung kadang malah buntung, saking sepinya,” kata Wulan, pedagang tekwan yang mangkal tiap hari di sekitar jalan protol tersebut.

Senada denga Joko dan wulan, Hadi yang berjualan pempek dan jenis cemilan lainnya juga mengeluhkan kondisi yang berubah sejak Corona menyerang OKU Selatan.

“Masyarakat dihimbau agar tetap di rumah saja dan tidak mendekati keramaian. Inilah yang membuat ekonomi kacau. Kami ini yang jualan kalau enggak ada pembeli, terus mau bagaimana? Para pembeli dilarang mendatangi kerumunan sedangkan kami pedagang ini menciptakan kerumunan. Makin rame kan makin laris,” Ungkap Hadi.

Para pedagang ini berharap pemerintah cepat tanggap terhadap nasib mereka. Jika mencari rezeki sudah semakin sulit karena pandemi Corona ini maka keberlangsungan hidup mereka juga terancam.

Baca Juga :  Jelang Peringatan HUT RI Ke-74 Pemda OKU Selatan Gelar Rapat Koordinasi

Hadi mewakili harapan para pedagang yang usahanya menurun bahkan terancam gulung tikar karena tersandung peraturan Pemkab dalam rangka memutus mata rantai virus Corona, meminta pemerintah Kabupaten OKU Selatan mencarikan solusi agar warganya tidak mati konyol karena keterlambatan aksi cepat tanggap terhadap warga yang terdampak Covid-19.

“Kami berharap pemerintah OKU Selatan dapat memberikan solusi bagi kami yang kesulitan mencari nafkah untuk keluarga karena terbentur peraturan pemerintah ini. Kami juga takut dengan virus Corona tapi kami juga takut kalau keluarga kami kelaparan, yang ada bukan meninggal karena Corona tapi karena kelaparan,” tutup Hadi. (Red)

Print Friendly, PDF & Email